Parjo Nyantri
Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
Kriiiiiiiiiiiiiiing!!
Bunyi alarm Parjo
meraung, gothak-an segera dipenuhi suara nyaring ponsel si Parjo. Si
empunya tergagap meraba kira-kanan di mana asal bunyi itu. Disahutlah
ponselnya, ia matikan alarmnya. Jam di ponsel Parjo menunjukkan pukul 03.00
pagi. Biasanya ia langsung bergegas untuk datang ke musala—melaksanakan salat
tahajjud.
Namun kali ini tidak, ia menahan
duduknya barang sejenak. Mengucek mata sekali lagi agar jernih penglihatannya.
Timeline Instagram, Facebook, Twitter-nya dipenuhi oleh postingan dengan isi #boikottrans7.
“lololo, ada ramen-ramen apa
lagi ini?!” Gumam Parjo sendirian.
Tangannya tak henti-henti menggulir
ke sana kemari untuk mencari ihwal apa tagar tersebut muncul. Ketemulah Parjo
dengan potongan video yang berisi tentang narasi santri yang cium tangan kiai,
ngesot di hadapan kiai, sampai penyebutan “miring” budaya kasih amplop ke kiai.
Di sini Parjo sedikit bingung, apa yang salah? Hal itu menjadi sesuatu yang
normal saja di pesantren sebab itu atas dasar krenthek hati “menghormati
kiai.”
Namun sayang, potongan video
tersebut di hadapan Parjo lain. Laku demikian dianggap sebagai wujud dari
feodalisme, wujud dari keserakahan seorang kiai pada santrinya. Titik
puncaknya, hal demikian dianggap sebagai eksploitasi yang tak
berperikemanusiaan pada santri.
Geram lah Parjo, fajar buta ia harus
naik pitam perkara tayangan TV tersebut.
Dengan hati bersungut-sungut, ia
kerjakan salat tahajjud di musala. Di dalam salatnya, hati Parjo masih
bergejolak. Ingat bahwa narasi yang ia lihat di ponsel tadi sangat mengganggu khusyu’-nya.
Lepas salat, Parjo tak langsung
kembali ke gothak-an. Ia menghela nafas sesekali berpikir, “apa iya yang
selama ini dilakukan oleh Parjo dan kawan-kawannya di pesantren adalah
wujud-wujud ‘budaya purba’ yang sudah tidak relevan dengan arus zaman
sekarang?”
Nampak dari kejauhan, sekelebat
sosok berbaju putih kian mendekat ke musala tempat Parjo duduk. Gapyak
yang berbunyi ceplak-ceplok lamat menghampirinya. Itu adalah Kiai Salim.
Kiai yang mengasuh pesantren tempat Parjo nyantri.
Parjo tergagap lalu mengambil sikap,
ia mematung, menunduk, menunggu Kiai Salim berlalu di hadapannya.
“Jo, rampung tahajjud?” Kiai
Salim bertanya.
“Nggih, Kiai. Sendiko.”
Jawab Parjo lugas dan sopan.
“Alhamdulillah. Kenapa? Kok nampak
murung begitu?” Tanya Kiai Salim lagi.
Lalu Parjo menukas dengan sopan, ia
menjelaskan kepada Kiai ihwal apa yang sudah ditontonnya tadi sebelum salat
tahajjud. Lain dengan Parjo yang bersungut-sungut, Kiai Salim malah
menyunggingkan giginya dan tersenyum. Sosok bersahaja itu memang tidak pernah
menanggapi persoalan dengan grusa-grusu.
“Ah, wong gitu aja, kok.”
“T-tapi, Kiai…” Parjo menyela lagi.
Namun Kiai Salim lantas menjelaskan lagi sebelum Parjo menukas lebih jauh.
“Begini, Jo. Orang di luar pesantren
tidak mungkin mengerti betapa ikatan budaya santri dan gurunya sangat erat; tak
hanya fisik, yang lebih utama adalah secara psikis. Nah, laku-laku demikian itu
adalah bentuk penghormatan. Tidak lebih juga tidak kurang. Sebab, apapun yang
dilakukan seorang santri kepada kiai, itu merupakan bentuk khidmah, rasa
terimakasih kepada sang guru. Tak ada memang dalam sejarahnya seorang kiai
meminta santri berjalan ngesot di depannya, meminum sisa airnya, atau bahkan
memberikan amplop pada sang kiai misalnya. Tidak. Budaya demikian berlaku dari
hasil proses panjang tadabbur kitab-kitab khas kepesantrenan.” Kiai
Salim menghela nafas.
Lanjut Kiai Salim.
“Ta’lim muta’alim misalnya yang mengajarkan bahwa santri sebaiknya
menunduk jika berbicara dengan seorang guru. Tidak langsung dengan menatap
matanya. Itu bukanlah bentuk tentang siapa asor siapa yang punya posisi.
Bukan Jo. Itu adalah bentuk keta’ziman; sebatas ekspresi bagaimana
seseorang mengejawentahkan penghormatan kepada orang berjasa. Sekarang, di sini
kamu nyantri bersamaku, bersama para ustadz yang lain. Apa pernah secara khusus
orang-orang itu memintamu untuk mengesot di depannya?”
Parjo menggeleng sopan.
“Nah, itu dia. Tidak ada. Namun
itulah bentuk sahajanya pesantren. Para santri dan kiai-nya memiliki ikatan
batin untuk saling asah dan asuh tanpa ada rasa gumedeh. Adapun
jika dikatakan itu adalah budaya feodal misalnya, sebab ada sambungan kultur
terhadap pola sosial raja-raja terdahulu. Sekali lagi bukan. Budaya pesantren
hadir dengan lokalitasnya masing-masing. Dan kamu.. tidak perlu kaget dengan
hadirnya narasi semacam itu. Ini bukan ucapan tendensius, Jo. Tapi ayo berpikir
jernih. Tantangannya makin berat ke depan. Para santri yang memegang erat
nilai-nilai religi dan resonansi batin, sehingga menjelma dengan tindakan yang
dituding miring itu. Jangan mudah terpengaruh terhadap pembelajaranmu ya.”
Parjo mulai agak lega. Ia
mendapatkan secercah pencerahan dari Kiai Salim.
“Ingat loh, Jo. Kita ini santri.
Hidup kita mengabdikan diri pada Allah SWT dan nilai luhur kepesantrenan.
Jangan sampai dikotori dengan pikiran dan nurani yang keji. Ilmu itu suci, tak
sebaiknya dikotori dengan hal-hal demikian. Nanti ndak mau masuk. Walhasil
berpengaruh pada pikiran dan tindakanmu.”
“Pripun maksudnya, Kiai?”
Tanya Parjo
“Kamu tadi salat tahajjud menghadap
siapa? Tapi apa pula yang bergejolak dalam hatimu?”
Parjo sedikit kaget, bagaimana bisa
Kiai Salim mengetahui apa yang dilakukan Parjo tadi. Tapi inilah. Inilah
kearifan santri dan Kiai di pesantren. Hubungan itu membentuk kekuatan batin
yang kuat sehingga muncullah ekspresi-ekspresi penghormatan dalam varian
bentuknya.
Bantul, 16 Oktober
2025

Discussion