Krisis Literasi di Tengah Warisan Besar
Oleh: Aguk Irawan Mn
31 Oktober 2025, lantai dasar Gedung Filsafat UGM menjadi saksi acara Philosophy Book Fair, sebuah upaya mengingatkan kita akan pentingnya budaya baca dan tulis. Saya alhamdulillah turut hadir di sana, dan menjadi bagian dari hajatan itu bersama Budayawan Taufik Razen, serta merasakan semangat yang sama: keprihatinan atas krisis literasi yang melanda generasi kita.
Padahal para pendiri bangsa ini, jelas mereka semua adalah aktivis literasi. Sebutlah Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Cokroaminoto, Agus Salim, Muhammad Yamin, KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim, dan banyak lagi, mereka semua memiliki satu kesamaan: kecintaan pada buku dan ilmu pengetahuan.
Bung Karno, misalnya, menulis "Di Bawah Bendera Revolusi", sebuah karya yang menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia sampai hari ini. Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita", dan sejumlah risalah tiga jilid masing-masing sekitar 600 halaman, sebuah karya yang membahas tentang pentingnya demokrasi dan kebebasan.
Lalu Agus Salim menulis "Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia." Serta salah satu karyanya berbahasa Belanda amat terkenal, "Gods Laatste Boodschap." Karya yang menelusur secara historis datangnya islam di Nusantara dan pentingnya spiritual bagi masyarakat. Tan Malaka menulis "Madilog", sebuah karya yang membahas tentang filsafat dan ilmu pengetahuan.
Namun, hari ini, generasi kita nampaknya mulai krisis literasi. Mereka nampak menyerahkan begitu saja "tugas" menulis pada AI dan budaya baca digantinya dengan melihat konten. Kita lebih suka membaca berita singkat di media sosial daripada membaca buku serius. Kita lebih suka menonton video daripada membaca artikel. Ini adalah tanda-tanda krisis literasi yang serius.
Baca Juga: Transformasi Pesantren untuk Perubahan Global
Acara Philosophy Book Fair di UGM kemarin adalah sebuah upaya untuk mengingatkan kita akan pentingnya budaya baca dan tulis. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk merefleksikan diri, untuk mengingat kembali warisan besar para pendiri bangsa, dan untuk memulai kembali perjalanan literasi kita.
Taufik Razen, dalam pembukaan sarasehannya, menekankan pentingnya literasi bagi masyarakat. "Literasi adalah kunci untuk memahami dunia dan diri sendiri," katanya. "Untuk memahami watak bangsa ini, kita bisa menelusuri dari banyak peninggalan warisan intelektual bangsa ini yang ditulis dari berbagai aksara, terutama Kawi dan Carakan." Tuturnya sambil memperlihatkan karya Zoetmolder berisi ribuan sinopsis kesusastraan Nusantara yang nyaris tak tersentuh oleh gen Z.
"Untuk tahu kepribadian masyarakat Nusantara, tidak bisa tidak, kita harus belajar memahami watak dan adat Kalang, tanpa literasi itu, kita akan menjadi masyarakat Indonesia yang buta dan tuli pada diri sendiri." Tambahnya.
Saya sendiri merasa terharu ketika masih melihat antusiasme para mahasiswa yang hadir di acara tersebut. Ya tentu saja meskipun tak seberapa banyak. Mereka bertanya-tanya, berdiskusi, dan membaca buku-buku yang dipamerkan. Ini adalah tanda bahwa masih ada harapan bagi generasi kita untuk kembali pada budaya literasi.


Discussion