Orang Tua Juga Bisa Durhaka
Oleh: Gunawan Wibisono
Orang Tua Juga Bisa Durhaka
Sesekali agak rebel.
Doktrin surga di bawah telapak kaki
ibu, atau ridho ilahi tergantung kedua orang tua terkadang jadi OMONG KOSONG
jika ujung-ujungnya anak yang macet gak berkembang
Jangan salah, kalau anak bisa
durhaka ke orangtuanya maka orang tua pun sama. Mereka juga bisa durhaka ke
anak.
Sekarang bagaimana jika keadaannya
begini:
Oke, anak sudah nurut ke orang tua.
Taruhlah, sholat gak pernah bolong, belajar tiap waktu, boros juga enggak,
sikapnya juga baik.
Tapi giliran anak ingin
mengeksplorasi diri malah dihambat? Tidak satu-dua kali saya dapat cerita sedih sebab orang tua yang kayak gini.
Beberapa teman cewek misalnya.
Tegas mengucapkan, "saya loh masih pengen belajar. Saya masih pengen
kuliah, masih pengen kerja atau menikmati kesendirian. Tapi sayang..."
Sudah bisa ketebak.
"Orangtuaku nyuruh
nikah."
Naini. Saya no comment.
Atau satu lagi, beberapa anak yang
pengen ikut organisasi misalnya. Dilarang sebab katanya gak guna, nanti jadi
pembangkang, blabla. Bukan bahagia, anak justru stress sebab pilihannya
tertunda sebab sikap orang tua yang gak memahami.
Bayangkan, anak yang sudah tahu
arahnya mau ke mana. Apa yang diminati, tapi malah dipaksa menurut ego orang
tua yang keterlaluan.
Iya, nurut orang tua bagus.
Mewujudkan impian orang tua juga ga salah. Tapi akan jadi konyol kalau orang
tua mikir, "ya kan itu satu-satunya cara untuk menghormati kami."
Perasaan anaknya gimana? 😀
Sekarang bagaimana jika kebetulan
orang tua kita yang begitu?
Begini, faktor dominan kenapa anak
kurang dapat kebebasan dari orang tuanya adalah, sebab si anak belum bisa
membuktikan (baca: memberikan kepercayaan).
Kasarnya begini. Kamu ikut
organisasi dilarang, sebab nanti orang tua berpikir hal itu akan mengganggu
fokus belajarmu. Waktu jadi kesita banyak. Belum lagi orang tua yang khawatiran
ama pergaulan anaknya.
Ada benarnya. Dan hal itu gak akan
berubah sebelum kamu ngasih "kepercayaan" ke orang tua. Caranya? Saya
ajari main cantik. 💯
Tidak perlu izin!
Ini dia.
Ada tapinya...
Tapi kamu harus membuktikan
hasilnya.
Diam-diam ikut organisasi, eh gak
lama kamu udah jadi ketua atau dapat posisi strategis di situ. Diam-diam
belajar silat, eh gak lama kok menang tanding, dapat piala, nama orang tua
kesebut. Diam-diam nimbrung forum diskusi, eh ga lama kamu diundang jadi
pembicara. Nah...
Jika hasilnya ada, kupikir orang
tua mana pun akan luluh ama hal itu. Wajar orang tua ngelarang sebab kamu
sebagai anak juga masih cupu, inyah-inyih. Prestasi ga ada, kepalanya juga
kosong. Apa yang dieksplorasi? Jika tidak begitu, maka kamu yang harus siap
disetir orang tuamu!
Saya sendiri gak pernah dilarang
ini-itu sebab dari kecil berkali-kali membuktikan. Orang tua hanya mendukung
dan mendoakan, dan tadi. Previlese terbesarnya adalah
"kebebasan memilih".

Discussion