Baitul Kilmah: Mengukir Dunia dengan Tinta

Baitul Kilmah: Mengukir Dunia dengan Tinta


Oleh: Luthfi Azizan

Di sebuah sudut sunyi di Dukuh Kayen, Pajangan, Bantul, tepatnya di mana angin kebun jati berhembus membawa aroma tanah basah, berdirilah sebuah tempat yang lebih mirip laboratorium nasib daripada sekadar bangunan Madrasah. Namanya Baitul Kilmah. Jika kau masuk ke sana, kau tidak akan hanya mencium bau buku tua, tapi kau akan menghirup aroma keberanian—keberanian anak-anak manusia yang menolak kalah pada garis kemiskinan.

Kisah ini dimulai pada tahun 2007, saat sebuah sanggar terjemahan Arab bernama SABDA lahir di sebuah blok perumahan di Sewon. Adalah Dr. KH. Aguk Irawan Lc. MA, seorang kyai muda yang kepalanya dipenuhi barisan kata-kata, yang memancangkan tiang pancang pertama. Pada 2009, embrio itu bermetamorfosis menjadi Yayasan Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah.

Jangan bayangkan pesantren ini seperti barak militer yang kaku. Di sini, kemerdekaan adalah mahkota. Para santri dipersilakan memilih senjata mereka sendiri: ada yang mengasah pena untuk menulis cerpen dan novel, ada yang menekuni puisi, hingga mereka yang menyelami kedalaman manuskrip beraksara Kawi atau kitab-kitab kuning yang sarat makna.

Semua santri di sini memiliki satu kesamaan yang getir: mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Mayoritas adalah pengelana ilmu yang terancam putus sekolah karena terbentur tembok tebal bernama biaya. Namun, di tangan Kyai Aguk, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Setiap hari Minggu, suasana berubah tegang namun puitis. Para santri dituntut mengirimkan satu karya. Karya-karya itu dibedah, dikuliti, dan dipersiapkan untuk bertarung di media-media massa. Inilah cara mereka bertahan hidup. Kyai Aguk mengajak mereka menerjemah, mengubah kerumitan bahasa menjadi kepingan rupiah yang bermartabat. Mereka tidak meminta belas kasihan; mereka menawarkan keahlian.

Hasilnya? Luar biasa! Seolah-olah jemari mereka memiliki sihir. Dari gubuk literasi ini, lahir karya-karya raksasa yang membuat akademisi dari berbagai universitas datang berkunjung dengan rasa takjub. Coba kau bayangkan:

  • Ensiklopedi Ulama Nusantara (9 Jilid)

  • Tafsir Jilani (12 Jilid)

  • Ensiklopedi Sains Islami (9 Jilid)

  • Tafsir Al-Munir (9 Jilid)

  • Hingga kamus-kamus yang tak lazim seperti Bahasa Indonesia-Ibrani dan Indonesia-Rusia.

  • Dan banyak lagi

Karya mereka merupakan dokumentasi belajar yang abadi. Di dalamnya tidak hanya tertuang tinta, tapi juga jejak perjuangan santri yang mengubah keterbatasan menjadi khazanah pengetahuan yang terjual laris hingga ke pelosok negeri.

Baitul Kilmah telah membuktikan bahwa di tengah kerasnya persaingan kerja di Yogyakarta, seorang santri tak harus menjadi buruh kasar. Mereka bisa menjadi intelektual yang berdaya. Melalui situs baitulkilmah.com, dunia bisa melihat betapa tajamnya pena-pena dari Pajangan ini.

Sebab, bagi santri Baitul Kilmah, tinta adalah darah mereka, dan buku adalah napas mereka. Mereka sedang menulis sejarah mereka sendiri, sejarah tentang bagaimana sebuah kata mampu mengubah dunia.

ORDER VIA CHAT

Product : Baitul Kilmah: Mengukir Dunia dengan Tinta

Price :

https://www.baitulkilmah.com/2025/12/baitul-kilmah-mengukir-dunia-dengan.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Discussion