Pada Suatu Waktu
/I/
Pada suatu waktu
Yang kau bilang perih
Hilang dari hidup
Dan kemudian bertanazzul
Menjadi bahagia-bahagia
Yang kau rengguk sedemikian rupa saat ini
Tetapi kau kerap lupa
Hatimu adalah telaga
Sedang kau kira tetes
saat dahaga meranggas kerongkonganmu
Dan cinta
Melingkupi segalanya itu
Ya Allah
/II/
Pada suatu waktu
Segala yang mengalir
Sampai pada muara
Dan takdir menentukan pilihan
Atas ketidaktahuanmu
Tetapi, mengapa kau risaukan ia sampai setiap hari kau bertengkar dengan dirimu sendiri?
/III/
Daun
Sore aku bicara pada daun sebelum setelahnya gugur,
"Mengapa kamu bisa jatuh di dasar titik nadir sandal dan derap langkah kaki manusia?"
"Karena rindu telah pada puncaknya." Matanya terpejam, dan kemudian ia mati membawa puncak kerinduan.
Lalu kutanya pada reranting tempat bersemayam,
"Mengapa kau patahkan daun?"
Dan kemudian ia tersenyum.
"Melaksanakan tugas, Tuan. Sebab alangkah jahatnya daku bila tak kuizinkan ia mati, sedang kerinduannya benar-benar menyiksa hidupnya, sedang senyum palsunya sudah tersebar di mana-mana."
Akar kemudian goyah. Semua yang nampak pada pohon bilung, dan linglung.
"Mengapa kamu bilungkan yang bergantung (padamu), Kawan?"
Daripada yang terhubung dengan akar itu menyembul ke atas tanah.
"Aku menahan kematian, dan menebarkan senyum-senyum palsu di mana-mana. Dan alangkah jahatnya aku bila harus kumatikan diri, sedang yang bergantung padaku masih banyak sekali. Sebab itu, aku memilih bertahan, meski dengan sakit yang demikian dan senyum-senyum palsu.
/IV/
Lukisan
Seorang bocah itu tertunduk
Wajahnya kalah
Lesung pipinya kusut tertutup kabut pedih
Dan ia telah menelan malam panjang
Serta kecongkakan manusia yang hilir-mudik tak peduli
Sebab ia melukis diri sendiri
Hatinya nyaris terbelah
Nafasnya kembang-kemput
Dituangkannya perasaan itu dalam kanvas bekas
Yang ia pungut dari sisa-sisa keserakahan manusia
Dan lukisannya kelabu
Penuh borok dan luka
17 Desember 2025
.png)
Discussion