Perihal Perut dan Pengaruhnya


Perihal Perut dan Pengaruhnya

 PERIHAL PERUT DAN PENGARUHNYA

Oleh: KH. Aguk Irawan MN

Alhamdulillah, dalam rintik gerimis semalam kita masih bisa istiqomah ngaji bareng Minhajul Abidin. Banyak ilmu dan asupa batin yang kita dapatkan dari kitab tersebut. Saat mata tertuju pada pasal albathn wa khifduhu, Imam Al-Ghazali tidak saja berbicara seperti sebagai ahli kesehatan dan gizi, bahwa perut sebagai sumber energi dan penyakit, melainkan juga sebagai penunjuk jalan spiritual. 

Ketika Sang Imam menempatkan "menjaga perut" sebagai rintangan krusial, maka ia seperti sedang membongkar sebuah "filsafat horisontal" yang sering kita abaikan: bahwa apa yang melintas di kerongkongan kita bukan sekadar gizi, melainkan "energi batin" yang membentuk potret diri kita seutuhnya.

Perut adalah titik temu paling nyata antara fisik dan metafisik. Dalam filsafat horisontal (hubungan manusia dengan alam/materi), makanan halal dan thayyib adalah nutrisi yang menghidupkan. Namun, ketika makanan itu haram atau syubhat, ia berubah menjadi racun spiritual, mengeras-kan hati, dan melemahkan potensi  manusia dengan Allah.

Perut yang penuh barang haram adalah penghalang, "tembok" yang membuat ibadah terasa berat dan intropeksi diri (muhasabah) menjadi tumpul. Maka, menjaga perut adalah tindakan eksistensial—sebuah pilihan sadar untuk membebaskan diri dari perbudakan nafsu, dan menempatkan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah.

Perbandingan dengan eksistensialisme Barat,  katakanlah Jean-Paul Sartre, menekankan bahwa "eksistensi mendahului esensi". Manusia menciptakan maknanya sendiri melalui pilihan bebas. Dalam perspektif ini, seseorang memilih makan apa saja untuk mendefinisikan dirinya. 

Namun, refleksi Al-Ghazali menawarkan kedalaman berbeda: Kebebasan manusia untuk memilih makanan (eksistensi) terbatas oleh hukum moral (esensi) yang ditetapkan Tuhan. Makanan haram dan syubhat bukan sekadar pilihan bebas, tapi ia "mengikat" manusia, membentuk karakter, perilaku, bahkan mengendalikan potret diri kita seutuhnya. Eksistensialisme Islam (sufistik) meniscayakan bahwa kebebasan sejati tercapai justru ketika manusia menundukkan "perutnya" (materi) demi ketenangan jiwa (spiritual).

Secara vertikal, perut adalah kompas menuju Yang Absolut. Inilah bedanya dengan eksistensialisme ateistik yang melihat manusia terjebak dalam ketiadaan makna. Dalam Minhaj-nya Al-Ghazali, melihat disana ada energi batin yang dipertaruhkan. Makanan yang kotor adalah kabut. Ia menghalangi cahaya batin untuk sampai pada puncaknya. 

Ada hubungan simetris antara kejernihan perut dan kejernihan doa. Bagaimana mungkin jiwa ingin melesat ke atas, jika ia diberatkan oleh beban-beban haram yang menyumbat pori-pori spiritualitas? Di sini, introspeksi menjadi mustahil karena cermin diri sudah tertutup kerak ketamakan.

Secara eksistensial, inilah drama manusia yang sesungguhnya: pilihan. Memilih apa yang masuk ke perut adalah pernyataan tentang "siapa aku". Albert Camus mungkin bicara tentang Sisyphus yang terus mendorong batu, namun dalam Minhajul Abidin, batu itu adalah nafsu perut. Melemahnya diri dalam kebaikan—keengganan untuk beribadah atau ketidakmampuan berempati—bukanlah sekadar kelelahan fisik. Itu adalah krisis eksistensi. 

Perut bisa menguatkan determinasi, namun ia juga bisa melumpuhkan kehendak bebas manusia untuk menjadi "baik". Maka, melihat perut kita adalah melihat cermin spiritual. Seseorang yang menjaga apa yang masuk ke perutnya sebenarnya sedang merawat energi batinnya, menjaga kebenaran perilakunya, dan memastikan bahwa tubuh ini hanyalah sarana (kendaraan) menuju Yang Maha Absolut, bukan penjara yang membuat kita lemah dalam ibadah. 

Sekali lagi, Imam Ghazali mengingatkan kita bahwa raga ini hanyalah kendaraan. Jika bahan bakarnya adalah kegelapan (barang haram), maka tujuannya pun akan gelap. Pikiran kita bukan hasil dari buku yang kita baca semata, tapi juga dari suapan yang kita telan.

Maka menjaga perut adalah upaya menjaga kemanusiaan. Di tengah dunia yang serba konsumtif, di mana manusia Barat sering kali terjebak dalam "kepuasan rasa sesaat" yang hampa, pesan Ghazali menjadi jangkar: bahwa revolusi mental, spiritual, dan intelektual tidak dimulai dari pidato-pidato besar, melainkan dari piring makan kita sendiri. Sebab di dalam perut yang terjaga, ada jiwa yang merdeka dan perut yang liar adalah awal keruntuhan diri. 


Wallahu'alam bishawab...

ORDER VIA CHAT

Product : Perihal Perut dan Pengaruhnya

Price :

https://www.baitulkilmah.com/2026/01/perihal-perut-dan-pengaruhnya.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Discussion