Sambutan Ustadz Abdul Shomad untuk Terjemah Tafsir Marah Labid

Terjemah Tafsir Marah Labid


Oleh: Luthfi Azizan

Rimbo Panjang, 19 November 2025- Ada sebuah hukum alam yang tak tertulis dalam dunia literasi: bahwa buku-buku besar akan menemukan takdirnya sendiri, dan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu akan selalu menemukan jalan pulangnya. Hari ini, sebuah getaran emosional melintasi jarak dari tanah Riau hingga ke meja redaksi PT. Lentera Abadi. Sosok ulama kharismatik, Datuk Sri Prof. Abdul Somad (UAS), memberikan sebuah kesaksian yang mengharuterbitnya terjemahan  biru menyambut Tafsir Al-Munir (Marah Labid) karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Bagi UAS, kehadiran sembilan jilid tafsir ini bukan sekadar urusan publikasi buku baru. Ini adalah sebuah memori yang "mengepul" kembali setelah terkubur selama dua dekade di belantara akademik Maroko.

Kenangan di Dar al-Hadith

Dua puluh tahun silam, tepatnya tahun 2005, di lorong-lorong legendaris Dar al-Hadith al-Hassania, Maroko, seorang Abdul Somad muda berdiri dengan draf tesis S2 di tangan. Judul yang ia ajukan sangat spesifik: Study Takhrij dan Tahqiq terhadap Hadits-Hadits dalam Kitab Marah Labid karya Syaikh Nawawi al-Bantani.

Namun, takdir berkata lain. Dr. Farida Zamrou menolak judul tersebut karena batasan studi hadis di sana kala itu hanya berkutat pada "Tiga Raksasa": Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Muwatta’ Malik. Niat suci untuk membedah karya sang mahaguru asal Banten itu harus tersimpan rapat sebagai sebuah kerinduan yang tak tuntas.

"Memori ini kembali hangat setelah mengendap 20 tahun lamanya," tulis UAS dalam sekapur sirihnya dalam sambutan Terjemah Tafsir Al-Munir Jilid 1.

Kesedihan masa lalu itu kini terobati. Kegagalan akademik dua dasawarsa silam seolah dibayar tunai ketika beliau mendengar kabar bahwa seniornya, Dr. Aguk Irawan, bersama tim Baitul Kilmah, telah berhasil merampungkan kerja raksasa menerjemahkan tafsir tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

Tafsir Marah Labid


Tim Penerjemah Tafsir Al-Munir Karya Syekh Nawawi Al-Bantani

Waktu berputar seperti gasing yang meliuk indah. Kenangan yang sempat beku itu mencair seketika saat UAS mendengar kabar bahwa seniornya, KH. Aguk Irawan bersama tim di Baitul Kilmah, telah merampungkan tugas suci: menerjemahkan Tafsir Marah Labid.

UAS mengenang kunjungannya ke Baitul Kilmah, sebuah oase di tengah sawah yang menghijau royo-royo. Di sana, ia menyaksikan mukjizat kemanusiaan. Anak-anak korban konflik, yang jiwanya pernah terkoyak, menemukan kesembuhan lewat pena. Pagi mereka bersekolah, sore berjualan demi sesuap nasi, dan malam hari mereka menjelma menjadi kuli tinta yang tekun. Mereka bahkan membukukan ceramah-ceramah UAS setebal lima ratus halaman—sebuah pengabdian yang membuat siapapun akan terenyuh.

Dalam kerendahan hati yang mendalam (tawadhu), Profesor yang kini mengajar di berbagai universitas di Brunei dan Malaysia ini menuliskan kalimat yang menyentuh:

"Hari ini saya sadar, hanya orang-orang luar biasa saja yang dipilih Syaikh Nawawi al-Bantani untuk terlibat dalam Tafsir Marah Labid. Saya tidak termasuk di dalamnya. Saya mencoba melibatkan diri dengan merangkai beberapa kata."

Sebuah pernyataan yang sangat tawadhu—di mana seorang tokoh besar justru merasa kerdil di hadapan keagungan ilmu seorang Syekh Nawawi. Beliau menyampaikan Tahni’ah (selamat) bagi siapa saja yang telah "membersamai" sang Syekh dalam proses penerjemahan ini.

Sambutan Datuk Sri Prof. Abdul Somad

Dengan restu dan sambutan hangat dari Datuk Sri Prof. Abdul Somad, kehadiran sembilan jilid Tafsir Al-Munir ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai literatur wajib bagi Muslim di Nusantara. Apa yang dulu hanya menjadi mimpi tesis seorang mahasiswa di Maroko, kini menjadi kenyataan yang bisa dibaca oleh siapa saja di Indonesia.

Mengapa Tafsir Al-Munir begitu penting? Syekh Nawawi al-Bantani adalah seorang maestro dalam menyederhanakan kerumitan. Beliau menggunakan metode tahlili—setia pada urutan ayat—namun menyampaikannya secara ijmali. Ringkas, padat, dan tidak bertele-tele.

Ia adalah perpaduan antara ketaatan pada riwayat ulama salaf dengan kejernihan nalar manusia modern. Membaca tafsir ini seperti melihat seorang nelayan tua yang tahu persis di mana letak ikan-ikan terbaik di samudra luas. Syekh Nawawi tidak mengajak kita tersesat dalam perdebatan kata yang melelahkan, melainkan langsung membawa kita pada inti sari akidah, hukum, dan akhlak.

Tafsir Al-Munir


Untuk Pembelian Kitab, KLIK DISINI!

Spesifikasi Teknis Sang Mahakarya:

  • Judul: Tafsir Munir (Marah Labid)

  • Penulis: Tim Kreatif Baitul Kilmah (Koord: Dr. KH. Aguk Irawan Lc. MA.)

  • Fisik: 9 Jilid, Hard Cover, Kertas Premium, Ukuran 21x29 cm.

  • Penerbit: Lentera Abadi.



ORDER VIA CHAT

Product : Sambutan Ustadz Abdul Shomad untuk Terjemah Tafsir Marah Labid

Price :

https://www.baitulkilmah.com/2026/02/sambutan-ustadz-abdul-shomad-untuk.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Discussion