Menjaga Sedekah Ibarat Merawat Kebun dari Angin Api
Oleh: Luthfi Azizan
Maghrib
baru saja luruh di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, meninggalkan bau tanah
basah dan desau angin di antara kami, para santri. Mata kami sudah hampir
terkatup, bertarung hebat dengan kantuk. Di tengah lingkaran itu, suara Kiai
Aguk Irawan terdengar, sejuk namun tegas, seolah sedang membedah rahasia alam
semesta dari lembaran-lembaran kitab Tafsir Jilani.
Tiba-tiba,
beliau melontarkan sebuah tamsil. Sebuah perumpamaan yang begitu dalam,
rasanya kami yang dangkal ini langsung tenggelam.
Beliau
berkisah tentang sedekah—selembar rupiah kusut yang kita keluarkan dari saku,
atau secangkir beras yang kita relakan. Kata beliau, itu sesungguhnya adalah
pekerjaan menanam sebuah kebun.
Tunggu
dulu. Bukan kebun ubi kayu di belakang rumah. Ini adalah kebun yang rimbunnya
tak terperi, yang hijaunya begitu pekat, suburnya menjanjikan harapan, laksana
karpet beludru termahal yang terhampar di istana raja. Kiasan puitis ini, Kiai
Aguk mengaku, beliau comot langsung dari firman Tuhan. Tujuannya cuma satu:
untuk memberitahu kami, santri-santri antah beranta ini, bahwa satu-satunya
yang dilihat Tuhan, satu-satunya yang laku di pasar-Nya, bukanlah jumlahnya,
melainkan sesuatu yang bernama: keikhlasan.
Lalu,
Kiai Aguk membawa kami melayang, jauh melintasi batas nalar, masuk ke sebuah
lukisan imajinatif yang membuat kami semua terpekur.
"Coba
bayangkan," kata beliau, suaranya seolah merayap di dinding pendopo,
"ada seorng lelaki. Ia memiliki sebidang surga di dunia."
Dan
kami pun membayangkannya. Sebuah kebun yang keelokannya bukan buatan.
Pohon-pohon kurma menjulang angkuh, bersanding dengan sulur-sulur anggur yang
bergelayut manja. Di bawahnya, oh, di bawahnya, alir-alir sungai membelah
tanah, jernihnya laksana kristal cair. Segala macam buah-buahan terbaik, yang
ranumnya mengundang decak kagum, bergelantungan di sana, seolah surga telah
bocor dan tumpah di pekarangan rumahnya.
Dari
sinilah drama kosmik itu dimulai, si pemilik kebun telah sampai di senjakala
usianya. Kulitnya telah keriput, langkahnya tak lagi tegap. Celakanya lagi, di
sampingnya berkerumun bocah-bocah kecil, darah dagingnya sendiri.
Makhluk-makhluk mungil yang masih ringkih, yang telapak tangannya terlalu
lembut untuk menggenggam cangkul, yang belum sanggup memikul beban hidup.
Takdir,
Tuan, adalah pelawak yang paling kejam.
Tepat
di saat si lelaki tua itu menambatkan seluruh sisa harapannya pada kebun itu,
menghitung hari panen untuk menyuapi mulut-mulut kecil itu, bencana datang
tanpa mengetuk pintu.
Bukan
badai biasa. Ini adalah i'sar, kata Kiai Aguk, suaranya bergetar. Angin
puting beliung yang berputar laksana gasing raksasa yang murka. Dan di dalam
pusarannya, ia membawa neraka kecil. Ia membawa narun—bara api yang
menyala-nyala!
Angin
topan berapi itu, seperti naga lapar, seketika menerjang. Ia melahap segalanya.
Memanggang kurma hingga gosong, mengeringkan anggur hingga jadi kismis pahit,
menguapkan sungai. Dalam sekejap mata, surga dunia itu luluh lantak. Tak ada
yang tersisa, Tuan, kecuali hamparan arang hitam legam dan tangis nelangsa si
lelaki tua yang kini tak punya apa-apa lagi.
Kami
semua terdiam. Udara di pendopo terasa berat.
Kiai
Aguk menatap kami. Kisah tragis itu, jelas beliau, adalah foto rontgen jiwa
kita.
Amal
sedekah adalah ikhtiar kita membangun kebun itu, sebatang demi sebatang, di
alam baka. Namun, betapa sering manusia, dengan kebodohannya yang rakus,
menjadi penyulut api bagi kebunnya sendiri.
Cukup
dengan sekelumit riya—rasa pamer yang membuncah di dada. Cukup dengan al-mann,
mengungkit-ungkit pemberian laksana rentenir menagih utang budi. Atau setitik al-adza,
kata-kata setajam silet yang merobek martabat si penerima.
"Itulah
angin api itu," bisik beliau. Angin beracun yang kita hembuskan dari
mulut kita sendiri.
Maka
kelak, di hari paling genting itu, kita akan berdiri di sana persis seperti
kakek malang tadi. Bangkrut sehina-hinanya. Menatap putus asa pada hamparan
arang hitam, sisa-sisa kebun pahala yang ludes terbakar kesombongan.
Anehnya,
Kiai Aguk kemudian tak lagi bicara soal langit. Ia justru mengajak kami
menunduk, mencium aroma tanah. Penyampaian itu, Tuan, menukik tajam, mengaitkan
erat-erat benang keikhlasan yang gaib itu dengan sesuatu yang bisa kita sentuh:
lingkungan. Beliau menyebutnya "fikih lingkungan", sebuah ilmu yang
kami baru dengar.
Katanya,
di dalam diri manusia yang paling primitif sekalipun, ada sebuah fitrah.
Sebuah cinta bawaan lahir pada keelokan alam. Pada hijaunya dedaunan, pada riak
air. Itu adalah kompas moral kita yang paling purba.
Maka,
kata beliau, percuma saja seseorang otaknya secerdas Einstein, hatinya selembut
kapas pada manusia, jika ia abai pada alam di sekitarnya. "Orang yang
bisa hidup nyaman dengan debu tebal di bukunya, yang tak tergerak hatinya
melihat tanaman kering kerontang," kata beliau, "itu 'kecerdasan
natural'-nya nol besar!". Itu adalah sebentuk kebutaan.
Lalu
kami diajari bahwa sedekah tak melulu soal uang.
Merawat
lingkungan, menanam sebatang pohon, itu adalah sedekah termurni. Saat kita
menanam, kita sedang membangun "surga-surga kecil" di bumi. Kita
sedang menggelar pesta bagi kupu-kupu dan burung-burung gereja, makhluk-makhluk
jujur yang tak pernah bertepuk tangan untuk pamer.
Dan
di sanalah letak rahasianya. Tindakan sederhana itu, tindakan memberi hidup
pada sebatang bibit, adalah cara paling elegan untuk menghancurkan monster di
dalam diri kita: ananiyah, sang egoisme.
Maka
inti dari pengajian malam itu, 8 Agustus 2025, sungguh menikam. Kiai Aguk
berpesan agar kami memurnikan niat. Sebab setiap amal baik kita, entah itu
sedekah atau sebatang pohon yang kita tanam, adalah "kebun tauhid".
Ia adalah "kebun taslim", taman kepasrahan kita.
Semua
itu, Tuan, harus disirami air keikhlasan yang murni. Sebab hanya keikhlasan
itulah yang akan menjadi perisai, yang akan memadamkan "angin api"
dari kesombongan kita sendiri.

Discussion