(Elit) PBNU Di Persimpangan Jalan.
Oleh: Aguk Irawan Mn
Sebenarnya ini bukan soal nahdliyin, atau jamaah an-nahdliyah, tapi ini murni soal elit PBNU, tetapi tentu saja ini dampaknya bisa ke semua wajah nahdliyin. Ada yang menyebutnya "angin ribut" dalam cangkir teh. Klise, barangkali. Tapi, ketika angin ribut itu berpusar di jantung Pengurus Besar, ia bukan sekadar metafora. Ia adalah pertarungan makna, wewenang, dan mungkin, sedikit soal ego, yang berkelindan dalam struktur organisasi paling berpengaruh di negeri ini.
Kabar yang beredar bak risalah kilat: Rapat Harian Syuriah PBNU, yang dipimpin langsung oleh Rais Aam, telah memutuskan agar K.H. Yahya Cholil Staquf—Gus Yahya, Ketua Umum Tanfidziyah—mengundurkan diri dalam tempo tiga hari. Alasannya bermacam-macam, dari soal tata kelola keuangan yang dinilai bermasalah hingga isu kebijakan struktural yang dianggap memicu kegaduhan, termasuk polemik narasumber di sebuah universitas yang dikaitkan dengan Israel.
Tentu, ini bukan kali pertama NU diguncang dinamika internal. Sejak era Muktamar Situbondo hingga polemik "NU struktural" versus "NU kultural", organisasi ini selalu hidup dalam dialektika. Di sinilah kita teringat pada sosok K.H. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Sang maestro paradox. Bagaimana ia menyikapi "gejolak" semacam ini? Barangkali dengan tawa renyah, atau mungkin kalimat pendek yang menusuk: "Gitu aja kok repot!"
Gus Dur pernah berkata, "NU ini bukan organisasi politik, tapi organisasi keagamaan. Khidmah kita adalah untuk umat, bukan untuk kekuasaan." Meskipun sering kali dianggap mendobrak tradisi, Gus Dur sangat menghormati mekanisme organisasi dan, yang terpenting, peran para kiai Syuriah. Ia tahu betul kapan harus berhenti, demi menjaga keutuhan dan martabat jam'iyyah.
Jika kita merenungkan "langkah bijaksana" ala Gus Dur, mungkin ia akan menertawakan keruwetan ini dengan tawa khasnya, lalu mengingatkan para pihak akan esensi ukhuwah nahdliyah (persaudaraan nahdliyah). Persoalan internal sebesar apa pun, ujarnya, harus diselesaikan di meja musyawarah dengan kepala dingin dan hati lapang, bukan dengan saling melempar risalah ke media atau mengumpulkan massa.
Baca Juga: Gelar Pahlawan Untuk Gus Dur
Bagi Gus Dur, organisasi sebesar NU adalah rumah bersama, bukan semata soal kekuasaan. Dinamika dan ger-geran adalah bagian dari denyut nadi demokrasi khas pesantren, yang mengutamakan musyawarah mufakat di atas segalanya. Ia selalu menekankan pentingnya peran Syuriah sebagai majelis tertinggi yang menjaga ruh keagamaan dan marwah organisasi, sementara Tanfidziyah menjalankan roda harian. Dalam pandangan Gus Dur, keduanya harus berjalan seimbang, dengan kearifan (hikmah) sebagai kompas utama.
Tapi, risalah yang beredar itu terkesan tegang, nyaris ultimatum. Ia seperti keputusan palu godam, terasa bukan bisikan lembut kearifan. Dan, sudah bisa ditebak Gus Yahya dengan gayanya yang khas, sepertinya akan sulit mundur, sebab menyebut keputusan itu sepihak dan tidak melalui klarifikasi terbuka. Di sinilah letak ironinya. NU, yang mengajarkan tawasut (moderat) dan tasamuh (toleran), kini diuji dengan cara penyelesaian masalah yang terkesan buru-buru.

Discussion