Gelar Pahlawan untuk Gus Dur

Gelar Pahlawan untuk Gus Dur


Oleh: Aguk Irawan Mn

    Pengukuhan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 yang lalu bagi pecinta beratnya, mungkin terasa seperti mencoba memberi nama resmi pada angin, atau membingkai cakrawala. Sesuatu yang, pada dasarnya, sudah ada di sana, diakui, dan dirasakan oleh banyak orang, jauh sebelum stempel negara diberikan.
    Gelar itu, mungkin, lebih dibutuhkan oleh negara—sebagai penanda formal dari pengakuan publik yang telah lebih dulu hadir—daripada dibutuhkan oleh sosok Gus Dur sendiri. Kita bicara tentang Gus Dur, sosok yang mendefinisikan kembali apa artinya menjadi seorang pemimpin dan, lebih mendasar lagi, apa artinya menjadi manusia.
    Di maqbarahnya Tebuireng yang tak pernah sepi oleh peziarah, dulu sempat saya baca sebuah epitaf sederhana namun mendalam: Here Rests a Humanist. "Di sini beristirahat bapak kemanusiaan." Sebuah pengakuan yang melampaui sekat-sekat agama, politik, atau jabatan kepresidenan yang pernah disandangnya.


    Khofifah Indar Parawansa, yang pernah mendampinginya, bersaksi bahwa bagi Gus Dur, humanisme berdiri di atas segalanya, bahkan di atas pluralisme itu sendiri. Kemanusiaan universal, yang memperjuangkan kaum minoritas, yang melampaui batas geografis.
    Dalam buku kumpulan pemikirannya, Prisma Pemikiran Gus Dur, kita melihat betapa awal ia telah bergulat dengan isu-isu hubungan agama dan negara, hak asasi manusia, dan integrasi nasional. Ia tidak hanya menawarkan gagasan di menara gading intelektual; ia menjalaninya. Warisannya, kata Inaya Wahid, putrinya, adalah buku dan pemikiran, bukan jabatan.
    Gus Dur adalah "Bapak Pluralisme" Indonesia. Ia melihat Indonesia sebagai taman bunga dengan aneka ragam bunga yang hidup berdampingan. Keberagaman bukanlah ancaman, melainkan rahmat. Dalam pandangannya, toleransi bukan sekadar sikap menghargai perbedaan, tetapi pengakuan aktif bahwa kemajemukan adalah sebuah keniscayaan, anugerah Tuhan yang harus dirawat.
    Ia merayakan pluralisme dalam bentuk yang paling nyata, bahkan dalam hal yang sepele seperti keragaman makanan di setiap daerah di pelosok negeri, sebagai unsur kekuatan, bukan ancaman. Tentu saja, jalan yang ditempuhnya tidak mulus. Ia adalah presiden yang dilengserkan di tengah jalan, sebuah peristiwa politik yang dramatis.
    Pada Juli 2001, ia mengeluarkan dekrit presiden untuk membekukan DPR dan MPR, sebuah langkah kontroversial yang mencerminkan ketegangan antara idealismenya dan realitas politik yang keras. Bagi para pendukungnya, tindakan itu adalah upaya heroik untuk mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat di tengah manuver politik, sementara bagi yang lain, itu adalah blunder.
    Tapi di situlah letak 'kepahlawanannya' yang unik: ia rela jatuh dari kursi kekuasaan demi prinsip yang diyakininya, demi memperjuangkan yang benar, bahkan ketika yang benar itu tidak populer secara politik.
Kepahlawanan, dalam filsafat, sering dikaitkan dengan keberanian moral (moral courage).
    Bukan sekadar keberanian fisik di medan perang, melainkan keberanian untuk bertindak berdasarkan keyakinan etis di tengah tekanan dan risiko pribadi. Gus Dur mewujudkan ini. Dengan mata yang digerogoti glaukoma, pandangannya mungkin kabur secara fisik, tetapi visi kemanusiaannya tetap jernih dan tajam.
    Penganugerahan gelar pahlawan oleh negara kini menjadi formalitas. Jauh sebelumnya, di hati jutaan rakyat kecil, kaum minoritas yang merasa dilindungi, para santri, dan mereka yang percaya pada Indonesia yang inklusif, Gus Dur sudah lama menjadi pahlawan. Ia adalah pahlawan demokrasi yang membawa angin segar kebebasan. Warisan pemikirannya tetap relevan dalam menjawab tantangan bangsa yang kian kompleks, mengingatkan kita pada pentingnya keadilan, keberpihakan pada kaum lemah, dan dialog.
    Gelar pahlawan itu adalah penegasan, sebuah prasasti dari negara untuk mengakui apa yang telah lama kita ketahui. Bahwa terkadang, pahlawan terbesar bukanlah mereka yang selalu menang dalam pertarungan politik, tetapi mereka yang berani kalah demi menjaga martabat kemanusiaan. Dan, dalam kekalahan politisnya, Gus Dur justru meraih kemenangan abadi dalam memori kolektif bangsa. Wallahu'alam bishawab.

Kasongan, 16 November 2025




ORDER VIA CHAT

Product : Gelar Pahlawan untuk Gus Dur

Price :

https://www.baitulkilmah.com/2025/11/gelar-pahlawan-untuk-gus-dur.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Discussion